Kisah Sasmis Pertahankan Gelar Juara Roland-Garros eSeries
Di saat jutaan penggemar tenis bersiap menyaksikan para pemain terbaik dunia memperebutkan kejayaan di French Open, sebuah sejarah baru telah tercipta di panggung eSports. Berdasarkan laporan resmi dari PocketGamer pada 5 Juni 2026, Samuel Sanin Ortiz yang dikenal dengan nama "Sasmis" berhasil mempertahankan mahkota juara dalam ajang Roland-Garros eSeries by Renault untuk game Tennis Clash pada 23 Mei lalu.
Pencapaian luar biasa ini membuat Samuel Sanin Ortiz tercatat sebagai pemain kedua dalam sejarah kompetisi yang mampu memenangkan gelar bergengsi tersebut lebih dari satu kali. Dari pantauan redaksi, turnamen yang didukung oleh French Tennis Federation sejak 2018 ini telah tumbuh menjadi salah satu acara eSports mobile terbesar, di mana edisi tahun ini berhasil menarik lebih dari 561.000 pemain Tennis Clash di babak kualifikasi gratis.
Menurut penuturan Sasmis setelah kemenangan bersejarahnya atas Eugen Mosdir "AreidY", mempertahankan gelar memberikan tekanan tersendiri karena kualitas lawan yang semakin tangguh. "Rasanya luar biasa! Ada tekanan tersendiri sebagai juara bertahan, jadi kemenangan ini sangat berarti bagi saya dan saya sangat bahagia," ungkap Sasmis ketika diwawancarai oleh jurnalis Luke Frater.
Meskipun berhasil meraih prestasi besar di salah satu panggung eSports mobile termegah, Sasmis mengaku tidak memiliki rencana perayaan yang mewah. Dari pengamatan tim redaksi, ia lebih memilih untuk langsung kembali ke pelukan keluarga, melanjutkan rutinitas pekerjaan, serta beristirahat dengan tenang di rumahnya.
Sasmis juga memuji komitmen penyelenggara yang membuat para atlet merasa nyaman selama kompetisi berlangsung. Menurutnya, Roland-Garros tidak sekadar menyajikan pertandingan game, melainkan menyuguhkan pengalaman menyeluruh yang membawa para pemain eSports untuk mengenal lebih dalam tentang dunia tenis dan sejarah turnamen itu sendiri.
Ketika ditanya mengenai harapannya untuk masa depan Tennis Clash, Sasmis menyatakan ingin melihat adanya turnamen yang kembali ke konsep dasar permainan. "Saya ingin melihat turnamen yang mengutamakan keterampilan murni, tanpa adanya kekuatan senar yang berlebihan, statistik ekstrem, atau stamina tak terbatas," pungkasnya.